Berita

SEDEKAH KALI DAN SAWERAN TEBAR REZEKI WARNAI FESTIVAL LANGEN MEJAGONG 2026

Dari Tradisi Berbagi hingga Pesan Menjaga Sungai dari Hulu sampai Hilir

**PEMALANG —** Kemeriahan Festival Langen Mejagong 2026 tidak berhenti pada aktivitas geburan dan permainan air di Kali Celo. Di tengah suasana masyarakat yang menikmati mandi bersama di sungai, terdapat tradisi **sedekah kali** yang menjadi salah satu bagian menarik dari rangkaian kegiatan.

Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Dukungan datang dari para dermawan dan donatur, baik warga lokal maupun pengunjung yang datang dari luar daerah.

Salah satu momen yang paling menarik perhatian adalah **saweran atau tebar uang dari atas Jembatan Pelangi Kali Celo Mejagong** kepada masyarakat yang sedang mengikuti geburan di sungai.

Uang yang ditebarkan dari atas jembatan disambut antusias oleh warga dan pengunjung. Suasana pun semakin meriah, namun kegiatan tersebut tetap membawa pesan mengenai semangat berbagi dan bersyukur.

Ketua Panitia PHBN HUT ke-81 Desa Mejagong, **Mas Alif**, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk berbagi rezeki.

> “Saweran tebar duit di sungai ini merupakan bentuk berbagi rezeki. Ada yang meyakini dengan berbagi dan bersyukur, usahanya akan semakin sukses. Yang jelas, orang yang selalu bersyukur akan ditambah nikmatnya oleh Tuhan. Berderma adalah salah satu bentuk rasa syukur.”

Ungkapan tersebut menjadi salah satu pesan sosial yang mewarnai Festival Langen Mejagong 2026. Kemeriahan tidak hanya diwujudkan melalui hiburan, tetapi juga melalui kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama.

## Jumali: Desa dan Masyarakat dalam Semangat Gotong Royong

Sebagai **Pj Kepala Desa Mejagong, Bapak Jumali**, keterlibatan pemerintah desa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus mendorong potensi desa.

Festival Langen Mejagong memperlihatkan bahwa masyarakat dapat menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan kegiatan wisata berbasis potensi lokal. Sungai Kali Celo tidak hanya menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan ruang kebersamaan masyarakat Desa Mejagong.

Semangat gotong royong tersebut terlihat dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, komunitas, organisasi kemasyarakatan hingga para pegiat wisata dan lingkungan.

## Agus Mulyadi: Kolaborasi Jadi Kekuatan Wisata Randudongkal

Sementara itu, dari unsur pemerintahan kecamatan, **Camat Randudongkal Bapak Agus Mulyadi, S.IP., M.M.**, menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan Festival Langen Mejagong.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan potensi wisata di wilayah Randudongkal dapat dibangun melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, relawan, serta para pelaku wisata.

Kehadiran pegiat rafting dan permainan air dari wilayah Pemalang Selatan juga memperlihatkan adanya peluang kolaborasi antar pelaku wisata untuk mengembangkan wisata sungai secara lebih luas.

Festival Langen Mejagong menjadi contoh bahwa sebuah kegiatan masyarakat dapat sekaligus memperkenalkan potensi lokal kepada pengunjung dari berbagai daerah.

## Pesan Besar dari Kali Celo

Di balik kemeriahan Festival Langen Mejagong 2026, terdapat pesan penting yang ingin terus ditanamkan kepada masyarakat, yaitu pentingnya menjaga sungai.

Sungai yang bersih dan air yang jernih bukan hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat menjadi daya tarik wisata yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, semangat festival dirangkum dalam pesan:

**“MENJAGA DAN MERAWAT SUNGAI DARI HULU SAMPAI HILIR.”**

Dengan penegasan:

**“SUNGAI BUKAN TEMPAT SAMPAH.”**

**“SUNGAI BERSIH, AIR JERNIH, KELESTARIAN TERJAGA.”**

Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena Festival Langen Mejagong secara langsung mengajak masyarakat menikmati sungai. Ketika sungai menjadi ruang rekreasi, kesadaran untuk menjaga kebersihannya juga menjadi tanggung jawab bersama.

## Pesta Rakyat yang Mengandung Pesan Lingkungan

Festival Langen Mejagong 2026 pada akhirnya bukan hanya menjadi penutup rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Mejagong.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pertemuan antara tradisi, wisata, kebersamaan, ekonomi masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Masyarakat datang untuk **langen bareng, geburan bareng dan adus-adusan**, tetapi sekaligus diajak memahami bahwa sungai yang mereka nikmati hari ini harus tetap dijaga untuk generasi mendatang.

Dengan hadirnya pemerintah, masyarakat, pegiat wisata, relawan, komunitas, organisasi kepemudaan, media, serta para dermawan dan donatur, Festival Langen Mejagong 2026 menjadi gambaran kuat mengenai semangat gotong royong masyarakat.

**Jumat Pahing, 28 Agustus 2026 atau 15 Rabiul Awal 1448 H**, menjadi catatan penting bagi Desa Mejagong.

Dari Kali Celo, kemerdekaan dirayakan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat: berkumpul, bergembira, berbagi rezeki, menikmati alam, sekaligus mengingatkan kembali pentingnya menjaga sungai.

**LANGEN BARENG, GEBURAN BARENG, ADUS-ADUSAN.**

**Menjaga dan merawat sungai dari hulu sampai hilir.**

**Sungai bukan tempat sampah. Sungai bersih, air jernih, kelestarian terjaga.**